top down

Gank /Rif: Ada Apa Ya?

Ditulis oleh Kang eNeS ~ Label:

Episode 4 : Mr. K, I Love U

“Rahayuuu…, tunggu!” Sebuah teriakan menghentikan langkah Rahayu yang tengah berjalan menuju ke arah kantin bersama dua orang sahabatnya, Ita dan Fitri. Persahabatan mereka terjalin karena mereka selalu berada dalam satu kelas sejak kelas 7 D dulu hingga sekarang di kelas 8 B. Gank /Rif, begitulah pak Sholeh menyebut mereka, ketika dia menjadi Wali Kelas mereka sewaktu di kelas 7 dulu. Disebut Gank /Rif ini bukan karena mereka pengagum setia sebuah kelompok musik asal kota Bandung, /Rif, tapi merupakan sebuah singkatan dari nama-nama mereka: Rahayu, Ita dan Fitri. Sedangkan mengenai strip (/) yang mereka tambahkan pada nama gank mereka, itu supaya tampak kelihatan keren saja.
“Eh, Nining. Ada apa, Ning, kelihatannya penting banget?” Rahayu merasa heran karena tidak biasanya cewek kalem dan lemah lembut ini memanggilnya sambil berteriak seperti itu.
“Ituu…, tadi ada pesan dari pak Sholeh supaya kamu menemuinya di ruang guru, sepulang sekolah.” Nining menjelaskan ketika dia dan Rian, teman sekelasnya, menghampiri Gank /Rif yang berdiri di dekat pintu gudang, dekat kantin.
“Ada apa, ya? Wah, jangan-jangan aku dimarahi karena nilai ulangan Matematikaku, jelek.” Rahayu khawatir akan dimarahi guru Matematikanya itu karena belakangan ini nilainya menurun drastis.
“Kayaknya sih bukan, soalnya aku dan Sarah juga disuruh menemuinya nanti,” sahut Nining, sedikit meredakan kekhawatiran Rahayu.
“Oo… kalau kalian bertiga yang dipanggil, pasti mau diaduin, siapa yang paling jago di antara kalian. Kalian kan juara umum waktu di kelas tujuh dulu.” Ita mengira-ngira maksud pemanggilan pak Sholeh atas teman-temannya itu.
“Hush! Emangnya ayam, pake diaduin segala. Aku rasa sih kalian mau diikutkan jadi peserta Olimpiade MIPA, bulan depan.” Fitri memberi pendapat.
“Iyaa, aku rasa juga demikian, soalnya kemarin aku mendengar pak Sholeh dan bu Rianti membicarakan malasah Olimpiade MIPA yang akan diadakan bulan depan di Dinas Pendidikan.” Rian ikut memperkuat pendapat Fitri. Dia memang sempat mendengar sepintas pembicaraan pak Sholeh dan bu Rianti menyangkut Olimpiade itu, ketika keduanya ngobrol di depan koperasi sekolah tempo hari.
“Kalo untuk Olimpiade MIPA, aku rasa yang paling tepat diajak itu si Irma, anak delapan G, bukan aku. Soalnya dia, kan jagoan Matematika.” Rahayu beralasan, karena merasa ada yang lebih pantas untuk ikut Olimpiade itu.
“Gak tauklah! Aku sendiri juga belum begitu jelas. Soalnya tadi, pak Sholeh cuma menyuruh kita untuk menemuinya sepulang sekolah nanti,” ujar Nining.
“Iya deh! Kita lihat saja nanti sepulang sekolah. Eh, ngomong-ngomong, bagaimana dengan si Sarah, apa dia sudah dikasih tauk?” Rahayu menanyakan Sarah.
“Sudah. Tadi, sewaktu mau mencarimu, aku bertemu dengannya di depan koperasi. Eh, sudah, ya?! Aku ada perlu mau ke koperasi nih, mau beli ballpoint. Ballpointku habis.” Nining menggamit lengan Rian, mengajaknya pergi.
“Ok. deh! Sampai ketemu nanti di ruang guru,” balas Rahayu sambil mengajak Ita dan Fitri meneruskan perjalanan ke kantin. Tapi hatinya masih diliputi berbagai pertanyaan, ada apa sampai-sampai dia dan dua kawannya di panggil pak Sholeh, mantan wali kelasnya itu, sewaktu kelas 7. Ah, jangan-jangan memang mau diaduin, seperti kata si Ita.

***


Suasana di ruang guru siang itu tampak lenggang karena sudah ditinggalkan oleh sebagian penghuninya. Yang masih tampak terlihat di sana hanya beberapa orang guru saja, itupun hanya guru laki-lakinya, sementara guru-guru perempuan sudah pulang lebih awal ke rumah masing-masing, sejak 15 menit yang lalu, tidak lama setelah bell tanda bubar sekolah berbunyi.
Di kursi sofa tampak terlihat pak Sholeh, pak Sabda, pak Hakim dan pak Nugroho tengah asyik ngobrol, memperbincangkan sesuatu. Sesekali tawa mereka terdengar seolah-olah ada yang lucu dari pembicaraannya, padahal jika didengarkan sepintas, pembicaraan-nya itu tidak terlalu lucu, biasa saja. Yang mereka perbincangkan hanya masalah ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut pak Sitompul. Maklumlah guru yang satu ini berasal dari Batak, jadi kata-kata yang diucapkannya sering terdengar aneh dan lucu di telinga orang sunda, seperti mereka.
Melihat keasyikan guru-guru itu, Nining, Rahayu dan Sarah terlihat agak sungkan ketika akan memasuki ruangan. Mereka khawatir kedatangannya hanya akan mengganggu percakapan guru-gurunya itu. Jadinya mereka saling dorong di depan pintu masuk ke ruang guru, tapi tak ada satu orang pun di antara mereka yang berani duluan masuk ke dalamnya. Pak Sabda, yang duduk menghadap ke arah pintu masuk, seketika menghentikan tawanya ketika melihat tingkah siswa-siswanya itu. Lalu dengan suaranya yang berat tetapi sopan, dia menanyakan keperluan mereka.
“Ada perlu apa, nak?”
Nining, Rahayu dan Sarah bukannya menjawab pertanyaan pak Sabda, tapi malah saling sikut, menyuruh temannya untuk menjawab. Melihat tingkah ketiga anak didiknya itu pak Sabda hanya mesem, lalu mengalihkan pandangannya ke arah pak Sholeh, yang duduk berhadap-hadapan dengannya, seolah-olah memberitahukan perihal kedatangan mereka.
“Oo, kalian… Silahkan masuk. Duduk di sana, ya, di depan meja saja!” Pak Sholeh yang melihat kedatangan ketiga siswa itu segera mempersilahkan mereka masuk. Kemudian ia pamitan kepada teman-teman untuk menemui ketiga siswa itu.
“Kalian tauk, kenapa kalian saya panggil?” Pak Sholeh memulai pembicaraan setelah dia duduk di belakang meja kerjanya.
“Begini…” lanjutnya, tanpa menunggu jawaban dari ketiga siswanya itu. “Bulan depan akan diadakan Olimpiade MIPA yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan. Sekolah kita tentu harus mengirimkan utusan untuk menjadi peserta. Nah, bapak harapkan kalian bisa mewakili sekolah kita menjadi peserta olimpiade tersebut. Bagaimana, siap?!”
“Hanya kami bertiga, pak? Kenapa gak yang lain saja?!” Rahayu yang merasa kurang siap menanyakan teman-temannya yang lain.
“Pertimbangannya begini… Waktu kelas tujuh, kan kalian juara umum. Nah, daripada bapak, bu Rianti dan pak Sabda repot-repot mencari orang lain, lebih baik yang sudah jelas kelihatan kemampuannya saja bapak ikutkan. Waktu kita hanya sebentar, tinggal sebulan lagi!” Pak Sholeh menjelaskan alasan penunjukkan mereka.
“Aduh, pak! Apa tidak lebih baik bapak menyeleksi kami dulu, soalnya temen-temen yang lain juga banyak yang pintar, pak, seperti Rian, Rena, Putri, Irma, Wita, Lisarah dan… masih banyak lagi?” Rahayu memberi usulan.
“Iya, pak! Orang seperti Ita, Nurani, Wida dan Fuji juga pintar, pak. Bahkan anak laki-lakinya juga banyak, seperti Anggri, Yosef, Yogi, Jian, Sendi...”
“Sudah, sudah! Kalau kalian tidak mau, nanti bapak nyari yang lain.” ujar pak Sholeh agak kecewa, memotong ucapan Sarah yang belum selesai.
“Bukannya kami tidak mau, pak, tapi saya kira usulan Rahayu itu bagus, mengingat masih banyak teman-teman kami juga yang pintar... Meskipun dulu kami juara umum, tapi boleh jadi untuk pelajaran Matematika dan IPA ada yang lebih baik dari kami bertiga.” Nining memberanikan diri bicara, menjelaskan alasan keinginan mereka untuk diadakan seleksi.
Mendengar penjelasan Nining itu, pak Sholeh manggut-manggut tanda setuju. Dalam hatinya ia merasa bangga karena anak didiknya sudah berani bicara dengan menggunakan argumentasi yang masuk akal.
“Sebenarnya bapak juga berpendapat demikian, tapi berhubung bu Rianti sedang sibuk, begitu juga dengan pak Sabda, jadi mereka tidak punya waktu untuk membuat soal seleksi. Ya, akhirnya diambil jalan pintas seperti itu...” Pak Sholeh menjelaskan alasannya. Lalu ia melanjutkan, “Tapi jika kalian siap untuk diseleksi… Baiklah, bapak akan mengadakan seleksi hari Sabtu nanti. Besok kalian kasih tauk yang lain untuk mempersiapkan diri.”
“Siapa saja yang akan diseleksi, pak?” tanya Rahayu.
“Besok pagi saja daftar orang-orangnya bapak berikan ke Nining. Sekarang sudah siang. Kalian pulanglah, mungkin orang tua kalian sudah menunggu-nunggu kalian di rumah. Katakan pada mereka, salam dari bapak, gitu!”
“Baiklah, pak… Assalaamu ‘alaikum…” Nining, Rahayu dan Sarah berpamitan sambil tidak lupa mencium tangan pak Sholeh. Lalu mereka menghampiri pak Sabda, pak Hakim dan pak Nugroho, yang masih terlihat asyik berbincang. Mereka berpamitan sambil mencium tangan guru-gurunya itu.

***

Lihat Cerbung Kang eNeS lainnya

2 komentar

oema mengatakan...  
6 November 2009 pukul 17.04

euleuh bapak... juara umum jadul dikoar-koar aja.hehe...

eNeS mengatakan...  
6 November 2009 pukul 23.37

Semua postingan di sini kan kebanyakan karya jadul say... Maklum sibuk ngurusin SC Community, jd blum ada karya puisi, cerpen ato cerbung baru nih, hehehe...

Posting Komentar

Link aktif dalam komentar secara otomatis akan dihapus/disembunyikan.
Terima kasih atas semua tanggapan sobat-sobat semua.....

SC Community