top down

Yuni, Lhu Tu Ye…

Ditulis oleh Kang eNeS ~ Label:

Episode 5 : Mr. K, I Love U

Suasana di kantin sangat ramai dipenuhi siswa SMP Mahardhika pada jam istirahat ini. Disana terlihat Gank ACC plus, Recent Group dan Coklat Club, yang kesemuanya siswa kelas 9. Tidak ketinggalan gank anak-anak kelas 8 pun turut meramaikan suasana kantin, seperti AMISs, /Rif, Repik dan masih banyak lagi.
Sebenarnya mereka tidak membuat gank sendiri-sendiri, apalagi memilah milih teman bermain. “Itu sih bisa-bisanya pak Sholeh saja!” kata Aryanti memberi alasan ketika pak Dharman, selaku Pembina Siswa, menanyakan masalah bermunculannya gank-gank di sekolah. Tapi karena sudah terlanjur diberi nama oleh pak Sholeh, maka jadilah mereka menamakan kelompoknya sesuai dengan sebutan yang diberikan. Seperti ACC, singkatan dari Anak Centil tapi Cerdas. Recent, yang diambil dari kependekan Remaja Centil karena semua anggotanya adalah aktivis PMR. AMISs, singkatan dari Anita, Mutiara, Irma, Stefany dan Santika, anak-anak mantan 7 D. /Rif, singkatan dari Rahayu, Ita dan Fitri, anak-anak mantan 7 D. Dan Repik, singkatan dari Rena, Putri dan Kartika, ketiganya mantan 7 E. Hanya nama Coklat saja yang bukan hasil pemberian pak Sholeh. Nama itu bisa-bisanya anak-anak cowok aktivis saja. Mereka merasa iri karena kelompoknya tidak diberi nama oleh pak Sholeh. Akhirnya mereka berembuk dan sepakat untuk menamakan kelompok mereka Coklat, kependekan dari COwok Keren Lagi AkTif.
Di kantin, siang itu, anak-anak terlihat berbaur antara satu gank dengan gank lain. Maklumlah, pada dasarnya mereka itu tidak gank-gankan, tidak kelompok-kelompokan. Bagi mereka, semua siswa SMP Mahardhika adalah teman, bahkan semua siswa adalah saudara se-Adam se-Hawa, karena itu tak ada istilah bagi mereka untuk tidak mau bergabung antara satu dengan yang lainnya. “Banyak batur, berarti subur!” Begitu prinsip mereka. Dengan semakin banyak teman berarti semakin banyak yang bisa nolongin, semakin banyak pula yang bisa jajanin.
Anak-anak /Rif, yang duduk di meja paling ujung, tidak jauh dari tukang mie kocok, terlihat sangat serius memperbincangkan masalah test seleksi untuk Olimpiade MIPA dengan anak-anak Repik dan AMISs. Sebagian besar dari mereka memang masuk kedalam daftar wajib ikut seleksi yang akan diadakan oleh pak Sholeh dan bu Rianti. Hanya Mutiara, Santika, Fitri dan Kartika saja yang tidak masuk kedalam daftar itu. Tapi itu tidak mejadikan mereka berempat merasa kecil hati dan minder di hadapan teman-temannya, lantas tidak mau bergabung dan terlibat di dalam perbincangan. Bagi mereka, wajar-wajar saja jika mereka tidak masuk kedalam daftar tersebut karena rangking mereka waktu di kelas 7 berada di bawah 3 besar.
Sementara itu, Aryanti, Astie dan Rahma plus Tiara, yang tergabung dalam Gank ACC plus, terlihat berkumpul satu meja dengan Indah, Yuni, Lestari, Wida dan Dinda, anak-anak Recent Group. Mereka terlihat asyik membicarakan masalah persiapan lomba baca puisi yang tidak lama lagi akan digelar. Menurut mereka persiapan untuk pelaksanaan lomba itu harus benar-benar matang supaya kegiatannya sukses dan tidak mengecewakan peserta, yang sudah berlatih serius untuk lomba tersebut.
Tiara, yang sejak awal kurang yakin pada keberanian Yuni meminta pak Sabda menjadi juri lomba, pura-pura menanyakan hasil pertemuannya dengan pak Sabda kemarin. Tiara tahu benar sifat Yuni yang pemalu. Kadang karena sifat pemalunya itu, dia tidak berani ngomong langsung ke pokok masalah, tapi suka berbasa-basi dulu kesana kemari sehingga masalah yang seharusnya bisa tuntas dalam waktu sebentar menjadi berkepanjangan, tidak segera dicapai. Apalagi ini ngomongnya dengan guru. Lebih-lebih guru yang paling ditakuti di SMP Mahardhika.
“Yun, gimana hasil pedekate ke pak Sabda kemarin, sukses ga?”
Yuni yang tengah asyik minum Orange Juice, tersentak kaget ditanya seperti itu oleh temannya. Dia tidak segera menjawab pertanyaan itu tapi malah mengalihkan padangannya ke arah Astie, seolah-olah meminta perlindungan pada sahabatnya itu. Astie yang dipandangi seperti itu malah diam. Dia tidak memberikan respon apa-apa, seolah-olah turut memberikan dukungan pada pertanyaan yang dilontarkan Tiara.
“Iya, Yun, gimana hasil kemarin? Mau gak pak Sabda jadi juri?” Rahma ikut-ikutan menanyakan.
“Mmm… belum tu. Kemarin, aku hanya menanyakan tentang kegiatannya sekarang, di luar jam sekolah. Katanya sih, dia sedang sibuk menyusun buku Fisika…” Yuni menjawab dengan sedikit ragu-ragu. Wajahnya sedikit ditundukkan untuk menutupi perasaannya. Dia takut disalahkan oleh teman-temannya karena tugas yang telah diberikan kepadanya belum membuahkan hasil.
“Jadi, belum ada hasil, apakah pak Sabda siap atau tidak?” tanya Tiara lagi.
“Aduuh… gimana dong?! Berabe deh kalo Mr. K gak jadi, soalnya aku sudah gembar-gembor ke anak-anak kalo Mr. K bakalan jadi juri dan sekaligus bakal ngebacain puisi-puisi karyanya.” Wida kecewa dengan jawaban yang diberikan Yuni tadi. Dia khawatir kalau-kalau pak Sabda tidak mau jadi juri. Maklum, dia sudah terlanjur berpromosi ke anak-anak SMP Mahardhika kalau pak Sabda akan tampil membacakan beberapa puisi hasil karyanya.
“Tenang saja, Wid. Kalo Mr. K tidak bisa, kan masih banyak guru yang lain. Aku rasa pak Dharman, pak Sholeh atau bu Dewi, tidak akan keberatan untuk menggantikan pak Sabda sebagai juri.” Lestari menenangkan kekhawatiran Wida, sekaligus memberikan solusi jika pak Sabda tidak siap untuk menjadi juri.
“Iyaa, tenang aja, Wiid… Malah gue bersyukur kalo Mr. K gak jadi juri. Gue sih serem ngeliat tampangnya yang serius, kayak robot!” Indah yang duduk di antara Wida dan Dinda menimpali sambil menyeruput es kopyor kelapa.
“Hush! Elhu tu, In, ke guru ngomongnya asbun. Kualat lhu, nanti!” Lestari merasa tidak senang pada ucapan Indah, karena bagaimanapun pak Sabda itu seorang guru yang harus dihormati, sekalipun dia tidak suka pada sikapnya yang galak.
“Iyaa… Memang si Indah tu, ngomongnya suka asal nguap!” Rahma, yang juga merasa tidak senang dengan ucapan temannya itu, ikut menimpali. Menurutnya, ucapan seperti itu tidak layak dialamatkan kepada guru, tidak sopan dan sangat keterlaluan.
“Udaah… jangan ribut! Si Yuni kan belum menanyakan kesiapan pak Sabda, apa dia mau atau gak jadi juri, bukan begitu, Yun?” Aryanti melihat kearah Yuni yang duduk tepat berhadap-hadapan dengannya.
Merasa ada yang membela, perlahan Yuni mengangkat mukanya. Rasa percaya dirinya timbul lagi. Dia berjanji dalam hati, nanti ia akan menanyakan langsung ke pak Sabda, bahkan kalau perlu dia merengek meminta pak Sabda supaya mau menjadi juri. Bukankah pak Sabda sangat baik padanya.
“Iya sih, belum. Kemarin, aku belum sempat menanyakan kesiapannya menjadi juri, soalnya keburu bell masuk.”
“Huuu… dasar!” serempak teman-temannya, kecewa.
“Memang elhu tu, Yun, kebangetan! Disuruh nanyain kesiapannya jadi juri, eh malah asyik ngobrol kesana-kemari, nanyain yang gak-gak lagi. Kebiasaan!” Indah kesal dengan kebiasaan temannya yang satu ini: suka bertele-tele.
“Yaa, sudah. Nanti saja kamu tanyakan lagi. Tapi kalo kamu agak sungkan, nanti bisa ditemani Astie.” Aryanti melirik ke arah sobat kentalnya, yang duduk di samping kirinya, meminta persetujuan.
“Gimana kalo nanti siang, sepulang sekolah, kita menemui pak Sabda, Yun?” Astie menawarkan.
“Tapi kamu nyamper aku ya, ke kelas!” pinta Yuni sambil memainkan sedotan Orange Juice-nya.
“Ok.!” Astie setuju.

***

Lihat Cerbung Kang eNeS lainnya

8 komentar

Ivan Kavalera mengatakan...  
16 Januari 2010 17.15

Mampir membaca cerpennya Kang Enes di sela hujan sore hari.

Ivan Kavalera mengatakan...  
16 Januari 2010 17.15

Keren cerpennya, kang.

rahmatea mengatakan...  
16 Januari 2010 20.14

baca baca kang......

SeNjA mengatakan...  
16 Januari 2010 23.22

wilujeng wengi kang,...

keren kang cerpennya ^_^

Symoi-Selamanya mengatakan...  
17 Januari 2010 18.57

terlalu panjang kak ne buru2 koment, cuma sempet 10 baris bacanya tapi seru kok

tangan dingin 'fungchie' mengatakan...  
1 Mei 2011 10.03

waaaaahhhhh..... kangen smp...
tira, ranis, wida, alm.wina, kiki, dkk.....
ini pernah di tempel di mading dulu ya pa.....

Putro Cahyo mengatakan...  
26 September 2016 08.34

Susah banget baca nih tulisan. Ga ada jarak antara paragraph satu dengan yang lainnya. Hadehh

Asuransi online terbaik pasarpolis | jurus membangkrutkan negara ala freemason

Shelly Huang mengatakan...  
2 Desember 2016 18.53

Info nya mantap gan..
Jangan lupa kunjungi kami juga ya gan

Agen Poker Online
Judi Poker
Bandar Q
Situs Poker Terpercaya
Agen Poker Indonesia

Bersama www.toyotaqq.com

Posting Komentar

Link aktif dalam komentar secara otomatis akan dihapus/disembunyikan.
Terima kasih atas semua tanggapan sobat-sobat semua.....

SC Community